“Benang Merah Nilai-Nilai Sejarah HMI dalam
Bingkai KeIslaman dan KeIndonesiaan”[1]
Narasumber: Kanda Wahyu Farillah (Kahmi Tulungagung)
“Benang merah nilai-nilai sejarah HMI
dalam Bingkai Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan”
Berbagai
argumen telah diungkapkan sebab-sebab kemunduran ummat Islam. Tetapi hanya satu
hal yang mendekati kebenaran, yaitu bahwa kemunduran ummat Islam diawali dengan
kemunduran berpikir, bahkan sama sekali menutup kesempatan untuk berpikir. Yang
jelas ketika ummat Islam terlena dengan kebesaran dan keagungan masa lalu maka
pada saat itu pula kemunduran menghinggapi kita. Akibat dari keterbelakangan
ummat Islam , maka munculah gerakan untuk menentang keterbatasan seseorang
melaksanakan ajaran Islam secara benar dan utuh. Gerakan ini disebut Gerakan
Pembaharuan. Gerakan Pembaharuan ini ingin mengembalikan ajaran Islam kepada
ajaran yang totalitas, dimana disadari oleh kelompok ini, bahwa Islam bukan
hanya terbatas kepada hal-hal yang sakral saja, melainkan juga merupakan pola
kehidupan manusia secara keseluruhan. Untuk itu sasaran Gerakan Pembaharuan
atau reformasi adalah ingin mengembalikan ajaran Islam kepada proporsi yang
sebenarnya, yang berpedoman kepada Al Quran dan Hadist Rassullulah SAW. Dengan
timbulnya ide pembaharuan itu, maka Gerakan Pem-baharuan di dunia Islam
bermunculan, seperti di Turki (1720), Mesir (1807). Begitu juga penganjurnya
seperti Rifaah Badawi Ath Tahtawi (1801-1873), Muhammad Abduh (1849-1905),
Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Wahabisme) di Saudi Arabia (1703-1787), Sayyid Ahmad
Khan di India (1817-1898), Muhammad Iqbal di Pakistan (1876-1938) dan
lain-lain. Tahun 1596 Cornrlis de Houtman mendarat di Banten. Maka sejak itu
pulalah Indonesia dijajah Belanda. Imprealisme Barat selama 350 tahun membawa
paling tidak 3 (tiga) hal : Penjajahan itu sendiri dengan segala bentuk
implikasinya. Missi dan Zending agama Kristiani. Peradaban Barat dengan ciri
sekulerisme dan liberalisme.
Setelah
melalui perjuangan secara terus menerus dan atas rahmat Allah SWT maka pada
tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta Sang Dwi Tunggal Proklamasi atas nama
bangsa Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya. Kondisi ummat Islam sebelum
berdirinya HMI dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) golongan, yaitu : Pertama : Sebagian besar yang melakukan
ajaran Islam itu hanya sebagai kewajiban yang diadatkan seperti dalam upacara
perkawinan, kematian serta kelahiran. Kedua
: Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang mengenal dan mempraktekkan
ajaran Islam sesuai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang
terpengaruh oleh mistikisme yang menyebabkan mereka berpendirian bahwa hidup
ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat
: Golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman, selaras
dengan wujud dan hakekat agama Islam. Mereka berusaha supaya agama Islam itu
benar-benar dapat dipraktekkan dalam masyarakat Indonesia. Ada dua faktor yang
sangat dominan yang mewarnai Perguruan Tinggi (PT) dan dunia kemahasiswaan
sebelum HMI berdiri. Pertama: sisitem
yang diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya dan PT khususnya adalah sistem
pendidikan barat, yang mengarah kepada sekulerisme yang mendangkalkan agama
disetiap aspek kehidupan manusia. Kedua
: adanya Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa
Indonesia (SMI) di Surakarta dimana kedua organisasi ini dibawah pengaruh
Komunis. Bergabungnya dua faham ini (Sekuler dan Komunis), melanda dunia PT dan
Kemahsiswaan, menyebabkan timbulnya Krisis Keseimbangan yang sangat tajam,
yakni tidak adanya keselarasan antara akal dan kalbu, jasmani dan rohani, serta
pemenuhan antara kebutuhan dunia dan akhirat.
Berdirinya
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa
STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih
duduk ditingkat I yang ketika itu genap berusia 25 tahun. Ketika itu hari Rabu
tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947, disalah satu
ruangan kuliah STI di Jalan Setiodiningratan (sekarang Panembahan Senopati).
Lafran Pane yang memiliki andil yang amat besar dalam merespon bagi
perkembangan Indonesia, sengaja penulis jabarkan sejarah dia sebagai rincian
awal bagian sistematika penulisan ini. Prof. DR. Nurkholis Majid mengatakan
dalam diri Lafran Pane terdapat suatu kearifan atau wisdom, tersembunyi atau
laten, yaitu kesadaran kebangsaan yang inkludif, yang lebih luas dari pada
primodialisme keagaamaan dan konservatif. Tumbuh dari keluarga yang terpelajar
membuat dia terbiasa dengan wawasan kebangsaan yang modern dengan
wawasan-wawasan ssosial politik yang serba meliputi.
Peran HMI di Masa Orde Lama
Pada masa
orde lama, yaitu saat-saat setelah hmi berdiri, seiring dengan tujuan HMI yang
digariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang
kemerdekaan, HMI terjun kegelanggang pertempuran melawan agresi yang dilakukan
oleh Belanda, membantu Pemerintah, baik langsung memegang senjata bedil dan
bambu runcing, sebagai staff, penerangan, penghubung. Untuk menghadapi
pemberontakkan PKI di Madiun 18 September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI
Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa (CM), dengan Komandan Hartono dan
wakil Komandan Ahmad Tirtosudiro, ikut membantu Pemerintah menumpas
pemberontakkan PKI di Madiun, dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung,
memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah dendam kesumat PKI terhadap HMI
tertanam. Dendam disertai benci itu nampak sangat menonjol pada tahun
1964-1965, disaat-saat menjelang meletusnya G30S/PKI. Masih dalam usaha
mempertahankan keutuhan NKRI, HMI melalui Wakil Ketua PB Mari\ie Muhammad
memprakasai Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) 25 Oktober 1965 yang bertugas antara
lain : 1) Mengamankan Pancasila. 2) Memperkuat bantuan kepada ABRI dalam
penumpasan Gestapu/ PKI sampai ke akar-akarnya. Puncak aksi KAMI terjadi pada
tanggal 10 Januari 1966 yang mengumandangkan tuntutan rakyat dalam bentuk
Tritura yang terkenal itu. Tuntutan tersebut ternyata mendapat perlakuan yang
represif dari aparat keamanan sehingga tidak sedikit dari pihak mahasiswa
menjadi korban. Akhirnya puncak tututan tersebut berbuah hasil yang
diharap-harapkan dengan keluarnya Supersemar sebagai tonggak sejarah berdirinya
Orde Baru. HMI sebagai sumber insani bangsa turut mempelopori tegaknya Orde
Baru untuk menghapuskan orde lama yang sarat dengan ketotaliterannya.
Kontribusi HMI di Era Orde Baru
Masa orde
baru, Pancasila dilaksanakan secara murni serta konsekuen (meski hal ini perlu
kajian lagi secara mendalam), maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah
Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). HMI pun sesuai dengan 5 aspek
pemikirannya turut pula memberikan sumbangan serta partisipasinya dalam era
awal pembagunan. Bentuk-bentuk partisipasi HMI baik anggotanya maupun yang
telah menjadi alumni meliputi diantaranya :
ü Partisipasi
dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya
pembangunan.
ü Partisipasi
dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran
ü Partisipasi
dalam bentuk pelaksana langsung dari pembangunan.
Suatu ciri
khas yang dibina oleh HMI, diantaranya adalah kebebasan berpikir dikalangan
anggotanya, karena pada hakikatnya timbulnya pembaharuan karena adanya
pemikiran yang bersifat dinamis dari masing-masing individu. Hal ini misalnya
dalam dialektika dan perbincangan seputar Negara dan Islam, konsep Negara
Islam, persoalan Islam Kaffah sampai pada penyesuaian dasar HMI dari Islam
menjadi Pancasila sebagai bentuk ijtihad organisasi didalam mempertahankan
cita-cita jangka panjang keummatan dan kebangsaan.
Posisi HMI di Era Reformasi
Di era
reformasi Secara histories sejak tahun 1995 HMI mulai melaksanakan gerakan
reformasi dengan menyampaikan pandangan, gagasan dan kritik terhadap
pemerintahan. Sesuai dengan kebijakan PB HMI bahwa HMI tidak akan melakukan
tindakan-tindakan inkonstitusional dan konfrontatif. Gerakan koreksi
pemerintahanpertama disampaikan pada jaman konggres XX HMI di Istana Negara
tanggal 21 Januari 1995. kemudian peringatan MILAD HMI Ke 50 Saudara Ketua Umum
Taufiq Hidayat menegaskan dan menjawab kritik-kritik yang menyebutkan bahwa HMI
terlalu dekat dengan kekuasaan. Bagi HMI kekuasaan bukanlah wilayah yang haram.
Tetapi adalah wilayah pencermatan dan kekritisan terhadap pemerintahan.
HMI Saat ini
Dari masa
kemasa, beberapa persoalan yang dihadapkan pada HMI tentang kritik independensi
HMI, kedekatan dengan militer, sikap HMI terhadap komunisme, tuntutan Negara
Islam, dukungan terhadap rehabilitasi masyumi, penerimaan azas tunggal
Pancasila, adaptasi rasionalitas pemikiran, dan lain-lain yang memberikan
penilaian kemunduran terhadap HMI, Yahya Muhaimin dalam konggres HMI ke XX
mengemukakan konsep tentang revitalisasi, reaktualisasi, refungsionalisasi, dan
restrukturisasi organisasi. Anas Urbaningrum menjawabnya dengan pemberian
wacana politik etis HMI. Yakni dengan langkah : Peningkatan visi HMI,
intelektualisasi, penguasaan basis dan modernisasi organisasi. Untuk pencapaian
tujuan HMI perlu dipersiapkan kondisi yang tepat sebagai modal untuk merekayasa
masa depan sesuai dengan 5 kualitas insan cita HMI. Tantangan yang dihadapi HMI
dan masa depan bangsa Indonesia sangat komplek. Tetapi justeru akan menjadi
peluang yang sangat baik untuk memperjuangkan cita-cita HMI sampai mencapai
tujuan.
Banyak
tudingan yang mengatakan HMI tidak lagi mampu mengembangkan peran yang luas dan
terbuka seiring dengan perkembangan dinamika kampus, berbangsa, dan bernegara.
Eksistensinya kini dipertanyakan kembali dan dinilai tidak lebih sebagai
organisasi pinggiran yang bergerak dengan cara samar-samar. HMI seolah gagal
menciptakan apentura-apentura untuk dapat lolos dari jebakan birokrasi dan
kekuasaan melalui kepemimpinan Orde Baru-hingga kini.
Kalau dulu
banyak gagasan intelektual yang muncul dari para kadernya mewarnai pemikiran
pembaruan Islam di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada era 1970-an ketika
Nurcholish Madjid-sebagai salah satu contoh yang sangat menonjol ketika
itu-melontarkan gagasan mengenai modernisasi dan sekularisasi pemikiran Islam,
yang kemudian terkenal dengan “ide Islam Yes, Partai Islam No”.
Saat ini
kader-kader HMI kembali terserang virus pragmatisme sehingga meraka tak mau
repot menciptakan gagasan-gagasan baru dan hanya bersifat konsumtif. Yang
menjadi pertanyaan adalah apakah memang budaya intelektual HMI telah luntur
seiring perkembangan zaman dikarenakan system, model perkaderan yang sudah
tidak relefan lagi di masa ini, ataukah memang personalitas kadernya yang
tumpul dalam hal pemikiran. Hal ini tentu saja tidak lepas dari system yang
dibentuk, kebiasaan yang dibudayakan,
Tantangan
zaman yang menjadi kecenderungan perkembangan global sekarang ini menuntut HMI
sebagai organisasi kemahasiswaan untuk dapat membaca dan memantau ke arah mana
kecenderungan itu berkembang. Dengan demikian, dapat secara tepat merumuskan
antisipasi terhadap kecenderungan global tersebut, baik perkembangan
makrostruktur politik maupun melalui mikrostruktur programnya.
Peran
Strategis HMI di Masa Depan
Dalam
upaya membangun dan menyiapkan sumber daya manusia berkualitas, terutama dalam
menghadapi abad ke-21 ini, perguruan tinggi mempunyai peranan yang amat
strategis. Berarti peran dari segenap sivitas akademika, dan berarti pula para
mahasiswanya. Dengan demikian, peran dan kiprah HMI akan senantiasa relevan di
masa depan bila ia memusatkan perhatian pada upaya membangun sumber daya manusia
berkualitas, yang dibutuhkan dalam pembangunan di abad ke-21.
1.
Memperkuat Basis Komunitas Intelektual
Peran strategis HMI yang diharapkan
adalah sebagai wahana pembinaan mahasiswa,
yang bertujuan untuk melahirkan sumber daya manusia yang andal dan memiliki keunggulan. HMI
diharapkan akan memberi perhatian lebih besar terhadap
upaya membangun basis kelompok terdidik dan terpelajar, yang menjadi cikal bakal lahirnya sumber daya manusia
berkualitas, andal, dan memiliki keunggulan. Kelompok ini dapat disebut sebagai
komunitas intelektual, yang merupakan soko guru kelompok elit strategis suatu
bangsa. Dalam kurun waktu yang relatif lama, HMI telah berhasil membangun
tradisi intelektual yang amat baik. Tradisi ini harus dilanjutkan dan
ditingkatkan lagi di masadepan.
HMI harus merupakan wahana bagi para mahasiswa untuk mengaktualisasikan potensi intelektual mereka, agar bisa berkembang dengan baik. HMI harus membuat dirinya menjadi wadah agar potensi tersebut bisa berkembang secara optimal dalam sebuah lingkungan sosial yang kondusif. Sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI diharapkan menjadi wadah dan tempat pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan aktivitasnya secara kreatif dan inovatif.
Sebagai institusi pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, HMI dapat memberi kontribusi yang besar terhadap proses pematangan mahasiswa sebagai kelompok masyarakat terpelajar. Dengan membangun manusia-manusia terdidik melalui proses pembelajaran, pemupukan potensi intelektual dan kepemimpinan, serta penguatan kapasitas belajar secara kontinum, diharapkan HMI bisa turut melahirkan manusia-manusia unggul masa depan. Yaitu manusia-manusia yang cerdas, terampil, memiliki etos kerja tinggi, semangat dan daya juang (fighting spirit) yang bergelora, sehingga siap menyongsong kehidupan global yang sangat kompetitif itu.
HMI harus merupakan wahana bagi para mahasiswa untuk mengaktualisasikan potensi intelektual mereka, agar bisa berkembang dengan baik. HMI harus membuat dirinya menjadi wadah agar potensi tersebut bisa berkembang secara optimal dalam sebuah lingkungan sosial yang kondusif. Sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI diharapkan menjadi wadah dan tempat pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan aktivitasnya secara kreatif dan inovatif.
Sebagai institusi pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, HMI dapat memberi kontribusi yang besar terhadap proses pematangan mahasiswa sebagai kelompok masyarakat terpelajar. Dengan membangun manusia-manusia terdidik melalui proses pembelajaran, pemupukan potensi intelektual dan kepemimpinan, serta penguatan kapasitas belajar secara kontinum, diharapkan HMI bisa turut melahirkan manusia-manusia unggul masa depan. Yaitu manusia-manusia yang cerdas, terampil, memiliki etos kerja tinggi, semangat dan daya juang (fighting spirit) yang bergelora, sehingga siap menyongsong kehidupan global yang sangat kompetitif itu.
2.
Mengembangkan dan Menguasai Iptek
HMI sebagai
organisasi para kader pembangunan yang Islami dan berwawasan kebangsaan,
diharapkan akan terus berusaha mengapresiasi secara kreatif dan inovatif
berbagai gejala dan kencenderungan yang dilahirkan oleh kemajuan iptek. HMI
harus dapat merespon dengan tepat tuntutan eksternal yang tidak bisa dielakkan,
yaitu perkembangan global yang didominasi oleh peranan iptek secara amat kuat.
Sebagai organisasi kemasyarakatan pemuda, dan sebagai bagian dari komunitas
perguruan tinggi, HMI harus memelopori pengembangan budaya iptek di kalangan
masyarakat.
3.
Memperkukuh Wawasan Kebangsaan
HMI juga
dituntut untuk senantiasa meneguhkan dan memantapkan wawasan kebangsaan di
kalangan anggotanya. Identitas Islam di dalam HMI hendaknya merefleksikan
semangat dan kesadaran bahwa HMI merupakan bagian yang terintegrasi dalam
masyarakat Indonesia. Dengan demikian, HMI dituntut untuk bisa melakukan
sintesa harmonis antara wawasan keislaman dan wawasan kebangsaan. Islam
merupakan semangat pergerakan di dalam tubuh HMI, sedangkan wawasan kebangsaan
haruslah menjadi basis HMI dalam melakukan pergerakan itu. Meneguhkan dan memantapkan
wawasan kebangsaan ini bukan hanya berdimensi internal, melainkan juga
berdimensi eksternal yakni untuk mengantisipasi gelombang globalisasi pada abad
ke-21 nanti. Peneguhan dan pemantapan wawasan kebangsaan ini, selain untuk
menghadapi tantangan globalisasi, juga agar keutuhan kita sebagai bangsa tetap
terpelihara dan terjaga dengan baik. Meneguhkan dan memantapkan wawasan
kebangsaan dalam era globalisasi ini sungguh penting, karena ada potensi
nilai-nilai kebangsaan terdesak karena menguatnya nilainilai universal. HMI
dapat berperan besar dalam usaha kita untuk terus menerus memupuk dan
memperkukuh wawasan kebangsaan dalam masyarakat Indonesia yang sangat majemuk
itu.
4.
Memperkuat Basis Kepemimpinan
Sebagai
organisasi mahasiswa, HMI merupakan lembaga strategis wadah pembentukan
kepemimpinan. Bangsa kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh dan
memiliki visi yang jelas tentang pembangunan nasional dan masa depannya.
Kepemimpinan yang tangguh dan bervisi itu tidak bisa lahir secara tiba-tiba,
tetapi harus melalui suatu proses; ada masa penempaan, penggodogan, dan
pengujian, baik ketika masih menjadi mahasiswa maupun sesudah terjun ke
masyarakat. HMI yang telah terbukti merupakan wadah kelahiran pemimpin-pemimpin
di masa lalu, diharapkan dapat terus menjadi kancah dan medan penempaan,
penggodogan, dan pengujian bagi calon-calon pemimpin bangsa di masa depan yang
kualitasnya sesuai untuk menghadapi tantangan masa depan, yang tidak sama
dengan masa lampau atau masa kini.
[1] Disampaikan pada
Intermediate training HMI Cabang tulungagung tertera hari rabu tanggal 18
Septemberr poukul 13.00 di Villa argo wilis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar