Sabtu, 02 November 2013

NDP HMI


“Interpretasi NDP sebagai Ideologi Gerakan HMI”
Narasumber:
Kanda Hadi Mutohir (Kahmi Kediri)
“Interpretasi NDP Sebagai Ideologi Gerakan HMI”

Sejak awal HMI telah mencantumkan “Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam” sebagai salah satu tujuannya, di samping “Mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia”. Dengan demikian, Islam telah dijadikan sebagai landasan organisasi tanpa menafikkan konsep kenegaraan dan nasionalisme. Dalam hal ini HMI tidak mendasarkan diri pada “mazhab” tertentu, walau kemudian dalam pola pemikirannya HMI cenderung sebagai kelompok intelektual muslim pembaharu.
Dari situ HMI menuangkan pemahaman keislamannya yang tertampung dalam sebuah buku pedoman yang diberi nama Nilai Dasar Perjuangan (NDP). NDP merupakan gambaran bagaimana seorang HMI memahami Islam sebagaimana tercantum dalam al-Quran. Secara doktrin, yang terkandung dalam NDP bukanlah ajaran yang bertentangan dengan Islam, melainkan merupakan formulasi kembali atas al-Quran sehingga tertuang menjadi suatu kepribadian bagi kader HMI dalam mewujudkan amanat Tuhan sebagai khalifah fil-ardhi.
NDP adalah landasan ideologis perjuangan HMI, sebagai ruh yang mendorong moral pergerakan kader. Pemahaman terhadap NDP diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri kader akan keyakinan ilahiahnya, membangun semangat humanisme dalam interaksi dengan sesama manusia, dan sebagai sumber nilai moral yang mengiringi ilmu pengetahuan untuk diabdikan bagi kemanusiaan. Dengan demikian nilai-nilai NDP bisa menjadi identitas yang khas bagi kader-kader HMI.
Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang dirumuskan Cak Nur bersama Endang Saefudin Anshari dan Sakib Mahmud terlahir dalam sebuah rasion d-etre di atas: sebuah upaya membangun suatu pola berpikir baru bagi generasi baru umat (baca: mahasiswa) agar lebih afirmatif terhadap proses-proses pembangunan. Dengan nilai-nilai baru yang ditawarkan itu, diharapkan lahir generasi-generasi yang lebih berpikir bagaimana bisa secara lebih aktif menyelesaikan persoalan-persoalan praktis umat yang tengah menghadapi arus modernisasi / westernisasi, tidak lagi terkungkung ke dalam pertarungan ideologis yang hanya berpikir mengawang-awang pada aras ideologi memperjuangkan “ideologi Islam” yang harus mengenyahkan “ideologi non-Islam”, sementara implementasi praksisnya terabaikan. Mahasiswa yang belajar di universitas-universitas menuntut berbagai disiplin ilmu adalah kader-kader umat yang sangat potensial untuk bergerak pada arah praksis-profesioanl. Mereka sangat memungkinkan untuk kemudian terjun mengabdikan diri pada umat di berbagai lapangan profesi. Inilah respon “yang benar” terhadap tantangan modernisasi.
Kata kunci dasar yang paling mudah untuk memahami pola berpikir yang ditawarkan dalam rumusan NDP itu adalah “iman, ilmu, dan amal” sebagaimana yang terbaca dalam bagian akhir rumusan NDP versi Cak Nur dkk. Iman adalah landasan, ilmu adalah alat, sedangkan amal adalah wujud nyata dan pembuktian dari iman dan ilmu. Amal yang dimaksud adalah amal-amal pada lapangan profesional seperti yang dimaksud di atas. Amal serupa ini merupakan amal untuk menghadapi tantangan modernitas yang tengah dihadapi umat Islam di Indonesia.
Pada perkembangannya, ide-ide dalam NDP itu diterima baik dalam tubuh HMI. Berulang-ulang sampai Kongres Jakarta 2003 NDP disahkan kembali untuk dijadikan bahan dasar “ideologi” HMI yang juga akan diajarkan di berbagai jenjang training HMI. Dan memang materi ini seolah-olah menjadi materi paling sakral dalam setiap pelatihan (Latihan Kader I, II, dan III).
Walaupun sampai saat ini belum pernah dilakukan penelitian serius seberapa jauh penyerapan dan efektivitas NDP bagi kader-kader HMI, namun hampir bisa dipastikan bahwa orientasi profesional yang diinginkan oleh HMI yang dasarnya diambil dari rumusan NDP dapat dipahami dengan baik. Ini terlihat dari masih dipeliharanya lembaga-lembaga profesional di tubuh HMI seperti LKMI, LEMI, LDMI, LPMI, LTMI, dan sebagainya. Sebagian besar kader HMI pun kemudian memang terjun ke dunia profesional sesuai dengan bidang yang dipelajari dan atau yang diminatinya semasa kuliah.
Distorsi-distorsi pemahaman terhadap NDP ini tentu terjadi di sana-sini dan tidak mungkin dihindari sepenuhnya. Apalagi bila kader yang masuk HMI semakin tidak paham terhadap ideologi yang digariskan HMI melalui rumusan NDP. Distorsi-distorsi ini terlihat misalnya dalam kecenderungan yang berlebihan pentolan-pentolan HMI terhadap dunia politik. Kader-kader terbaik HMI banyak yang tersedot ke sana sampai muncul stigma bahwa HMI terlalu political-oriented atau organisasi pengkaderan calon politisi, dan sebagainya. Distorsi lain adalah kecenderungan ke arah yang lebih sekular. Banyak kader HMI yang tidak mengerti agama (baca: Islam) dengan baik dan, secara gerakan, HMI terlihat “meninggalkan” mesjid sejak lama.
Distorsi pertama terjadi disebabkan telah banyaknya kader-kader HMI yang diakomodasi masuk ke dalam pusaran kekuasaan. Ini dapat dimengerti dengan mudah. HMI dengan jelas terlihat sangat menyokong “pembangunanisme” Orde Baru. Tulisan-tulisan Cak Nur dan berbagai kebijakan HMI pasca Orde Baru lebih terkesan ‘merestui’ segala kebijakan Soeharto. Oleh sebab itu, tidak heran bila HMI dijadikan salah satu basis kekuatan Orde Baru dari kelompok gerakan Islam, terutama kelompok generasi muda. Terutama melalui KNPI. HMI ditarik ke dalam pusaran kekuasaan untuk mendukung kekuasaan Soeharto. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila banyak alumni HMI yang kemudian sangat mudah masuk ke dalam dunia politik. Situasi ini berjalan sangat lama selama kekuasaan Orde Baru berjaya. Ketika rezim Soeharto tumbang, alumni-alumni HMI masih tetap tersisa di dalam arus kekuasaan. Bahkan belakangan sering terdengar stigma tentang HMI-connection di DPR dari pusat sampai daerah-daerah. Dalam situasi seperti itu, sangat wajar bila kemudian kader-kader HMI banyak yang berorientasi ke sana. Selain mudah karena akses yang sudah terbangun, juga lebih menjanjikan secara ekonomi dan terkesan lebih prestisius. Itulah kemudian yang mendistorsi arah gerakan kader-kader HMI.
Distorsi kedua, yaitu kecenderungan ke arah sekular, akan kita lihat lebih mendalam. Masalah kecenderungan ke arah sekular, selain disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap masalah-masalah keagamaan, juga diakibatkan oleh paradigma NDP sendiri yang bisa mengafirmasi proses sekularisasi. Mengenai kurangnya perhatian terhadap masalah-masalah keagamaan terjadi semenjak mesjid-mesjid kampus ditinggalkan oleh kader-kader HMI. Ini terjadi sekitar pertengahan tahun 80-an, ketika Orde Baru dengan sangat garang memberangus siapa saja yang tidak sepakat dengan Asas Tunggal. Setiap aktivis mesjid akan dicurigai sebagai “ekstrim kanan”. HMI yang telah berkomitmen menerima Asas Tunggal, mau tidak mau harus menghindari stigmatisasi dari pihak penguasa sebagai “ekstrim kanan”. Bila tidak dilakukan alamat kedekatan HMI dengan Orde Baru yang sudah terjalin sejak lama akan sirna seketika. Akhirnya, mesjid-mesjid kampus diambil alih oleh generasi-generasi baru didikan alumni-alumni Masyumi yang berkumpul di Dewan Dakwah (Keluarga Besar Bulan Bintang) yang dikomandani Muhammad Natsir. Gerakan baru ini dulu dikenal dengan sebutan gerakan usrah atau tarbiyah yang kemudian setelah meletus Reformasi bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera.
Jauhnya gerakan HMI dari mesjid semakin memperkuat kesan pada kader-kader HMI generasi pasca 80-an bahwa HMI lebih merupakan gerakan mahasiswa yang berhaluan “nasionalis” daripada gerakan mahasiswa “islamis”. Kesan ini kemudian berimplikasi pada budaya organisasi yang lebih mengedepankan tema-tema pembangunan dan nasionalisme daripada tema-tema Islam dan dakwah dalam arti yang seluas-luasnya. Isu-isu keislaman seolah tenggelam dalam isu-isu nasionalisme (kebangsaan). Pengkaderan-pengkaderan pun lebih banyak diarahkan ke sana.
Nilai Dasar Perjuangan memang masih diajarkan pada periode-periode itu. Hanya sayang cara-cara pengajarannya yang lebih menekankan pada pendekatan rasional-filosofis menjadikan NDP cenderung “disekularisasi.” NDP bagi sebagian kader menjadi “hantu menakutkan” karena sulit dimengerti. Seringkali para pengajar alih-alih memperjelas dan menyederhanakan NDP sebagai bahan konsumsi ideologi, justru malah membuatnya menjadi rumit, berbelit-belit, dan cenderung tidak mudah dipahami. Sayag situasi inipun tidak ditanggapi serius oleh pengambil kebijakan di tingkat pusat. Sepanjang pengamatan, sangat jarang dilakukan training-training khusus metode pengajaran NDP yang lebih praktis dan memudahkan. Kalaupun ada training-training pengayaan NDP selalu cenderung lebih memperumit masalah. Situasi inilah yang kemudian NDP menjadi semakin hilang fungsinya sebagai dasar ideologis. Dan akhirnya, kecenderungan modernisasi yang akan membawa penganutnya ke arah sekularisasi pun terjadi dalam tubuh HMI. Jadilah HMI begitu sekuler dan duniawi.
Keadaan seperti itu mestinya bisa diatasi bila secara fundamental paradigma HMI dapat mengkonstruk satu sistem yang tidak sekular. Inilah sebenarnya yang harus menjadi otokritik utama. Paradigma berorganisasi HMI yang direpresentasikan oleh NDP memperlihatkan kelemahannya secara mendasar pada bangunan filosofis-argumentatifnya yang memberikan afirmasi kepada modernitas agak berlebihan dan tidak merepresentasikan suatu islamic worldview yang memandang realitas secara tidak dikotomik.
Mengenai afirmasi terhadap modernitas telah dijelaskan di awal makalah ini tentang kecenderungan-kecenderungan pemikiran Cak Nur. Afirmasi semacam ini pada mulanya berniat baik, yakni ingin mengubah umat agar lebih berpikir maju. Namun agaknya Cak Nur lupa bahwa implikasi penerimaan terhadap modernisasi, bila tidak dihadapi secara kritis, justru akan membawa ke arah sekularisasi. Tidak kurang dari penulis-penulis Barat sendiri yang menyebutkan bahwa di antara ciri masyarakat yang telah termodernkan adalah terjadi de-agami-sasi dan sekularisasi seperti yang terjadi dalam sejarah sekularisasi di Barat sejak abad ke-16 M. Yang terjadi di HMI pada tahap selanjunya ketika proses ideologisasinya semakin melemah, adalah proses sekularisasi, sekalipun hal demikian tidak diinginkan Cak Nur sendiri sebagai penggagas NDP. Cak Nur mengartikan modernisasi yang ia setujui itu sebagai usaha merasionalisasi praktik-praktik keberagamaan, namun pada kenyataannya malah menyeret pada sekularisasi seperti yang terjadi di HMI. Hal demikian disebabkan tarikan arus modernisasi-sekular yang memang tengah terjadi di Indonesia lebih kuat daripada penanaman ideologi  melalui NDP.
Kemungkinan terjadi sekularisasi itupun bisa disebabkan pendekatan NDP yang masih dikotomik dan reduksionis dalam melihat realitas kehidupan. Benar bahwa dalam NDP ditekankan pentingnya kepercayaan pada Allah sebagai modal kehidupan. Namun pada saat yang sama NDP terlampau memberikan kepercayaan kepada ilmu pengetahuan Barat-modern untuk dijadikan pegangan oleh kader-kader HMI. Kecenderungan-kecenderungan epistemologis dalam ilmu pengetahuan Barat yang reduktif dalam memandang realitas secara holistik-universal ini tidak diantisipasi sejak awal. Ilmu pengetahuan Barat secara umum lebih mengajarkan “positivisme” dan “empirisisme” yang artinya mereduksi realitas hanya sampai pada tingkat fisik-indrawi. Tingkat wujud lain seperti wujud Tuhan, wujud intuisi, dan wujud-wujud non-fisik lain dianggap sebagai wujud yang tidak riil sehingga pengetahuan mengenai hal tersebut dianggap sebagai pengetahuan yang tidak bisa diandalkan.
Reduksionisme semacam itu pada gilirannya membawa modernisme pada situasi kekeringan spiritual yang akut. Hal demikian terjadi di HMI. Agama sebatas dibicarakan sebagai urusan pribadi, sementara urusan-urusan kemasyarakatan dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan agama (baca: Islam). Sementara masalah pribadi seringkali tidak dibicarakan dalam konteks berorganisasi. Akhirnya, kader-kader yang sebelumnya tidak mengerti soal-soal keagamaan, ketika masuk HMI kehilangan perhatian terhadap spiritualitas. Mereka-mereka inilah yang kemudian terjangkiti penyakit modernisasi di Barat, yaitu krisis spiritual dan cenderung sekular. Kader-kader yang sebelumnya telah akrab dengan agama (baca: Islam) kondisinya agak sedikit lebih baik. Secara sistemik, HMI tidak menyediakan wadah yang secara efekif mendidik seluruh kadernya agar terhindar dari krisis spiritual sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat yang termodernkan lainnya. Inilah kelemahan organisatoris mendasar yang membawa HMI pada situasi yang sama sekali tidak diharapkan.
NDP pada dirinya sendiri belum menawarkan paradigma integratif pada tataran epistemologis yang bisa memadukan antara supremasi wahyu dan fakultas spiritual dalam Islam dengan kebutuhan akan ilmu pengetahuan (empirik dan rasional). Fondasi tauhid dalam NDP belum bisa sepenuhnya menyelesaikan dikotomi-dikotomi, misalnya, antara subjektif-objektif, fisik-spiritual, agama-non agama, dan dikotomi-dikotomi lain yang sama sekali tidak bisa memandang realitas secara lebih utuh. Situasi ini sangat wajar terjadi di tangah pemujaan terhadap modernitas yang sekular dan dikotomik. Sekalipun demikian, keinginan NDP untuk mengatasi dikotomi itu sudah terlihat ada dengan tidak benar-benar mengenyahkan agama (pandangan Tauhid) dari aras NDP.
Persoalan krisis spiritual itu pada mulanya timbul akibat pendekatan epistemologis yang keliru. Dalam pandangan epistemologi Barat-modern yang dianut NDP pendekatan dalam pemerolehan pengetahuan (epistemologis) terjebak hanya pada dua pendekatan, yaitu pendekatan empirik dan rasional. Padahal, pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang dibekali potensi intuitif (al-qalb atau hati). Kalaupun ada perhatian pada masalah hati, sifatnya tidak integratif seperti yang telah dijelaskan di atas. Seolah-olah hati atau intuisi bukanlah sesuatu yang mampu melahirkan pengetahuan yang juga bisa diandalkan seperti alat indra (empirik) dan akal (rasional). Bahkan untuk pengenalan objek-objek non-fisik yang tidak bisa diindra dan tidak terjangkau oleh akal, penggunaan intuisi justru lebih bisa diandalkan. Oleh sebab itu, dalam term-term yang ditulis sepanjang NDP, riyâdhah rûhiyyah (spiritual exercise atau latihan spiritual) tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting dan mendasar. Padahal dalam hirarki pengetahuan Islam, pengetahuan yang diperoleh melalui riyâdhah rûhiyyah adalah pengetahuan dasar dan wajib dipelajari oleh semua orang. Sementara pengetahuan-pengetahuan yang salurannya diperoleh melalui akal dan indra, kebanyakan merupakan ilmu-ilmu yang statusnya hanya wajib kifâyah (hanya sebagian orang saja yang harus mempelajarinya).


mission HMI


“Telaah Misi Perjuangan HMI dalam Mencetak Mental Pelopor Kader HMI”[1]
Narasumber:
1. Kanda Zaini Hamdi (Kahmi Tulungagung)
               
“Telaah Misi Perjuangan HMI dalam Mencetak Mental Pelopor Kader HMI”
Menurut kanda zaini Hamdi (pemrakarsa lagu HMI wan- HMI wati) bahwa “udkhuli fi HMi kaaffah”. Sebagai kader HMI harus secara menyelurus (all Out) ketika berjuang di HMI. Menjadi basis umat dan bangsa guna menegakkan keadilan yang diridoi alloh SWT. Mission secara esesnsi adalah ruang untuk menjadi dan menuju insane kamil. Mission merupakan suatu perjalanan (bisa dikatakan proses). Beliau juga mengatakan bahwa mission berfungsi untuk menegakkan 5 kwalitas insane cita HMI yaitu militant dan akademis. Dikatakan kader HMI adalah kader militant merupakan kader yang mempunyai kontribusi terhadap setiap pentas di HMI, bukan untuk meminta sesuatu di HMI. Dan itulah merukan bentuk kesuksesan yang ada di HMI.
            Dalam pernyataannya bahwa karakteristik kader HMi itu ada tiga yaitu 1. Simpatisan, 2. Miltan, 3. Curikulum vitae. Pertama simpatisan yaitu ikut meramaikan saja, tidak ada kontribusi di HMi, ikut-ikutan tanpa tau arah geraknya mau apa dan mau kemana perjuangannya. Kedua kader Militan yang merupakan harapannya sebagai kader yang ulet memperjuangkan mission HMI, berkontribusi demi tegaknya perkaderan dan missi perjuangan, progresi dan frevolusioner. Ketiga adalah curikulum vitae, yaitu kader yang hanya titip nama saja.
            Menurutnya bahwa eksistensi HMi itu ada di perkaderan dan perdiskusian dalam arti (kegiatan). Karena adanya dua hal tersebut maka pola pergerakan dalam menuju mission HMI akan cepat tercapai. Rumus dalam berkader diri di HMI yang sesuai dengan norma mission HMI adalah hidup dan menghidupkan HMi serta bergairah dalam beretorika (diskusi dll). Kalupun ditarik benag merah sebagai konklusi perdiskusian ini adalah HMI saat ini harus instropeksi dirir kembali pada gairah dan jalan perkaderan HMI.



[1] Disampaikan pada Intermediate training HMI Cabang tulungagung tertera hari Kamis tanggal 19 Septemberr poukul 19.00 di Villa argo wilis.

“Benang Merah Nilai-Nilai Sejarah HMI dalam Bingkai KeIslaman dan KeIndonesiaan”[1]
Narasumber: Kanda Wahyu Farillah (Kahmi Tulungagung)
“Benang merah nilai-nilai sejarah HMI
 dalam Bingkai Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan”

Berbagai argumen telah diungkapkan sebab-sebab kemunduran ummat Islam. Tetapi hanya satu hal yang mendekati kebenaran, yaitu bahwa kemunduran ummat Islam diawali dengan kemunduran berpikir, bahkan sama sekali menutup kesempatan untuk berpikir. Yang jelas ketika ummat Islam terlena dengan kebesaran dan keagungan masa lalu maka pada saat itu pula kemunduran menghinggapi kita. Akibat dari keterbelakangan ummat Islam , maka munculah gerakan untuk menentang keterbatasan seseorang melaksanakan ajaran Islam secara benar dan utuh. Gerakan ini disebut Gerakan Pembaharuan. Gerakan Pembaharuan ini ingin mengembalikan ajaran Islam kepada ajaran yang totalitas, dimana disadari oleh kelompok ini, bahwa Islam bukan hanya terbatas kepada hal-hal yang sakral saja, melainkan juga merupakan pola kehidupan manusia secara keseluruhan. Untuk itu sasaran Gerakan Pembaharuan atau reformasi adalah ingin mengembalikan ajaran Islam kepada proporsi yang sebenarnya, yang berpedoman kepada Al Quran dan Hadist Rassullulah SAW. Dengan timbulnya ide pembaharuan itu, maka Gerakan Pem-baharuan di dunia Islam bermunculan, seperti di Turki (1720), Mesir (1807). Begitu juga penganjurnya seperti Rifaah Badawi Ath Tahtawi (1801-1873), Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Wahabisme) di Saudi Arabia (1703-1787), Sayyid Ahmad Khan di India (1817-1898), Muhammad Iqbal di Pakistan (1876-1938) dan lain-lain. Tahun 1596 Cornrlis de Houtman mendarat di Banten. Maka sejak itu pulalah Indonesia dijajah Belanda. Imprealisme Barat selama 350 tahun membawa paling tidak 3 (tiga) hal : Penjajahan itu sendiri dengan segala bentuk implikasinya. Missi dan Zending agama Kristiani. Peradaban Barat dengan ciri sekulerisme dan liberalisme.
Setelah melalui perjuangan secara terus menerus dan atas rahmat Allah SWT maka pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta Sang Dwi Tunggal Proklamasi atas nama bangsa Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya. Kondisi ummat Islam sebelum berdirinya HMI dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) golongan, yaitu : Pertama : Sebagian besar yang melakukan ajaran Islam itu hanya sebagai kewajiban yang diadatkan seperti dalam upacara perkawinan, kematian serta kelahiran. Kedua : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang mengenal dan mempraktekkan ajaran Islam sesuai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang terpengaruh oleh mistikisme yang menyebabkan mereka berpendirian bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat : Golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman, selaras dengan wujud dan hakekat agama Islam. Mereka berusaha supaya agama Islam itu benar-benar dapat dipraktekkan dalam masyarakat Indonesia. Ada dua faktor yang sangat dominan yang mewarnai Perguruan Tinggi (PT) dan dunia kemahasiswaan sebelum HMI berdiri. Pertama: sisitem yang diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya dan PT khususnya adalah sistem pendidikan barat, yang mengarah kepada sekulerisme yang mendangkalkan agama disetiap aspek kehidupan manusia. Kedua : adanya Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) di Surakarta dimana kedua organisasi ini dibawah pengaruh Komunis. Bergabungnya dua faham ini (Sekuler dan Komunis), melanda dunia PT dan Kemahsiswaan, menyebabkan timbulnya Krisis Keseimbangan yang sangat tajam, yakni tidak adanya keselarasan antara akal dan kalbu, jasmani dan rohani, serta pemenuhan antara kebutuhan dunia dan akhirat.
Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk ditingkat I yang ketika itu genap berusia 25 tahun. Ketika itu hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947, disalah satu ruangan kuliah STI di Jalan Setiodiningratan (sekarang Panembahan Senopati). Lafran Pane yang memiliki andil yang amat besar dalam merespon bagi perkembangan Indonesia, sengaja penulis jabarkan sejarah dia sebagai rincian awal bagian sistematika penulisan ini. Prof. DR. Nurkholis Majid mengatakan dalam diri Lafran Pane terdapat suatu kearifan atau wisdom, tersembunyi atau laten, yaitu kesadaran kebangsaan yang inkludif, yang lebih luas dari pada primodialisme keagaamaan dan konservatif. Tumbuh dari keluarga yang terpelajar membuat dia terbiasa dengan wawasan kebangsaan yang modern dengan wawasan-wawasan ssosial politik yang serba meliputi.
Peran HMI di Masa Orde Lama
Pada masa orde lama, yaitu saat-saat setelah hmi berdiri, seiring dengan tujuan HMI yang digariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelanggang pertempuran melawan agresi yang dilakukan oleh Belanda, membantu Pemerintah, baik langsung memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai staff, penerangan, penghubung. Untuk menghadapi pemberontakkan PKI di Madiun 18 September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa (CM), dengan Komandan Hartono dan wakil Komandan Ahmad Tirtosudiro, ikut membantu Pemerintah menumpas pemberontakkan PKI di Madiun, dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung, memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah dendam kesumat PKI terhadap HMI tertanam. Dendam disertai benci itu nampak sangat menonjol pada tahun 1964-1965, disaat-saat menjelang meletusnya G30S/PKI. Masih dalam usaha mempertahankan keutuhan NKRI, HMI melalui Wakil Ketua PB Mari\ie Muhammad memprakasai Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) 25 Oktober 1965 yang bertugas antara lain : 1) Mengamankan Pancasila. 2) Memperkuat bantuan kepada ABRI dalam penumpasan Gestapu/ PKI sampai ke akar-akarnya. Puncak aksi KAMI terjadi pada tanggal 10 Januari 1966 yang mengumandangkan tuntutan rakyat dalam bentuk Tritura yang terkenal itu. Tuntutan tersebut ternyata mendapat perlakuan yang represif dari aparat keamanan sehingga tidak sedikit dari pihak mahasiswa menjadi korban. Akhirnya puncak tututan tersebut berbuah hasil yang diharap-harapkan dengan keluarnya Supersemar sebagai tonggak sejarah berdirinya Orde Baru. HMI sebagai sumber insani bangsa turut mempelopori tegaknya Orde Baru untuk menghapuskan orde lama yang sarat dengan ketotaliterannya.
Kontribusi HMI di Era Orde Baru
Masa orde baru, Pancasila dilaksanakan secara murni serta konsekuen (meski hal ini perlu kajian lagi secara mendalam), maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). HMI pun sesuai dengan 5 aspek pemikirannya turut pula memberikan sumbangan serta partisipasinya dalam era awal pembagunan. Bentuk-bentuk partisipasi HMI baik anggotanya maupun yang telah menjadi alumni meliputi diantaranya :
ü  Partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan.
ü  Partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran
ü  Partisipasi dalam bentuk pelaksana langsung dari pembangunan.
Suatu ciri khas yang dibina oleh HMI, diantaranya adalah kebebasan berpikir dikalangan anggotanya, karena pada hakikatnya timbulnya pembaharuan karena adanya pemikiran yang bersifat dinamis dari masing-masing individu. Hal ini misalnya dalam dialektika dan perbincangan seputar Negara dan Islam, konsep Negara Islam, persoalan Islam Kaffah sampai pada penyesuaian dasar HMI dari Islam menjadi Pancasila sebagai bentuk ijtihad organisasi didalam mempertahankan cita-cita jangka panjang keummatan dan kebangsaan.
Posisi HMI di Era Reformasi
Di era reformasi Secara histories sejak tahun 1995 HMI mulai melaksanakan gerakan reformasi dengan menyampaikan pandangan, gagasan dan kritik terhadap pemerintahan. Sesuai dengan kebijakan PB HMI bahwa HMI tidak akan melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional dan konfrontatif. Gerakan koreksi pemerintahanpertama disampaikan pada jaman konggres XX HMI di Istana Negara tanggal 21 Januari 1995. kemudian peringatan MILAD HMI Ke 50 Saudara Ketua Umum Taufiq Hidayat menegaskan dan menjawab kritik-kritik yang menyebutkan bahwa HMI terlalu dekat dengan kekuasaan. Bagi HMI kekuasaan bukanlah wilayah yang haram. Tetapi adalah wilayah pencermatan dan kekritisan terhadap pemerintahan.
HMI Saat ini
Dari masa kemasa, beberapa persoalan yang dihadapkan pada HMI tentang kritik independensi HMI, kedekatan dengan militer, sikap HMI terhadap komunisme, tuntutan Negara Islam, dukungan terhadap rehabilitasi masyumi, penerimaan azas tunggal Pancasila, adaptasi rasionalitas pemikiran, dan lain-lain yang memberikan penilaian kemunduran terhadap HMI, Yahya Muhaimin dalam konggres HMI ke XX mengemukakan konsep tentang revitalisasi, reaktualisasi, refungsionalisasi, dan restrukturisasi organisasi. Anas Urbaningrum menjawabnya dengan pemberian wacana politik etis HMI. Yakni dengan langkah : Peningkatan visi HMI, intelektualisasi, penguasaan basis dan modernisasi organisasi. Untuk pencapaian tujuan HMI perlu dipersiapkan kondisi yang tepat sebagai modal untuk merekayasa masa depan sesuai dengan 5 kualitas insan cita HMI. Tantangan yang dihadapi HMI dan masa depan bangsa Indonesia sangat komplek. Tetapi justeru akan menjadi peluang yang sangat baik untuk memperjuangkan cita-cita HMI sampai mencapai tujuan.
Banyak tudingan yang mengatakan HMI tidak lagi mampu mengembangkan peran yang luas dan terbuka seiring dengan perkembangan dinamika kampus, berbangsa, dan bernegara. Eksistensinya kini dipertanyakan kembali dan dinilai tidak lebih sebagai organisasi pinggiran yang bergerak dengan cara samar-samar. HMI seolah gagal menciptakan apentura-apentura untuk dapat lolos dari jebakan birokrasi dan kekuasaan melalui kepemimpinan Orde Baru-hingga kini.
Kalau dulu banyak gagasan intelektual yang muncul dari para kadernya mewarnai pemikiran pembaruan Islam di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada era 1970-an ketika Nurcholish Madjid-sebagai salah satu contoh yang sangat menonjol ketika itu-melontarkan gagasan mengenai modernisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, yang kemudian terkenal dengan “ide Islam Yes, Partai Islam No”.
Saat ini kader-kader HMI kembali terserang virus pragmatisme sehingga meraka tak mau repot menciptakan gagasan-gagasan baru dan hanya bersifat konsumtif. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah memang budaya intelektual HMI telah luntur seiring perkembangan zaman dikarenakan system, model perkaderan yang sudah tidak relefan lagi di masa ini, ataukah memang personalitas kadernya yang tumpul dalam hal pemikiran. Hal ini tentu saja tidak lepas dari system yang dibentuk, kebiasaan yang dibudayakan,
Tantangan zaman yang menjadi kecenderungan perkembangan global sekarang ini menuntut HMI sebagai organisasi kemahasiswaan untuk dapat membaca dan memantau ke arah mana kecenderungan itu berkembang. Dengan demikian, dapat secara tepat merumuskan antisipasi terhadap kecenderungan global tersebut, baik perkembangan makrostruktur politik maupun melalui mikrostruktur programnya.
            Peran Strategis HMI di Masa Depan
            Dalam upaya membangun dan menyiapkan sumber daya manusia berkualitas, terutama dalam menghadapi abad ke-21 ini, perguruan tinggi mempunyai peranan yang amat strategis. Berarti peran dari segenap sivitas akademika, dan berarti pula para mahasiswanya. Dengan demikian, peran dan kiprah HMI akan senantiasa relevan di masa depan bila ia memusatkan perhatian pada upaya membangun sumber daya manusia berkualitas, yang dibutuhkan dalam pembangunan di abad ke-21.
1.        Memperkuat Basis Komunitas Intelektual
            Peran strategis HMI yang diharapkan adalah sebagai wahana pembinaan       mahasiswa, yang bertujuan untuk melahirkan sumber daya manusia yang andal             dan memiliki keunggulan. HMI diharapkan akan memberi perhatian lebih besar             terhadap upaya membangun basis kelompok terdidik dan terpelajar, yang menjadi        cikal bakal lahirnya sumber daya manusia berkualitas, andal, dan memiliki keunggulan. Kelompok ini dapat disebut sebagai komunitas intelektual, yang merupakan soko guru kelompok elit strategis suatu bangsa. Dalam kurun waktu yang relatif lama, HMI telah berhasil membangun tradisi intelektual yang amat baik. Tradisi ini harus dilanjutkan dan ditingkatkan lagi di masadepan.
HMI harus merupakan wahana bagi para mahasiswa untuk mengaktualisasikan potensi intelektual mereka, agar bisa berkembang dengan baik. HMI harus membuat dirinya menjadi wadah agar potensi tersebut bisa berkembang secara optimal dalam sebuah lingkungan sosial yang kondusif. Sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI diharapkan menjadi wadah dan tempat pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan aktivitasnya secara kreatif dan inovatif.
Sebagai institusi pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, HMI dapat memberi kontribusi yang besar terhadap proses pematangan mahasiswa sebagai kelompok masyarakat terpelajar. Dengan membangun manusia-manusia terdidik melalui proses pembelajaran, pemupukan potensi intelektual dan kepemimpinan, serta penguatan kapasitas belajar secara kontinum, diharapkan HMI bisa turut melahirkan manusia-manusia unggul masa depan. Yaitu manusia-manusia yang cerdas, terampil, memiliki etos kerja tinggi, semangat dan daya juang (fighting spirit) yang bergelora, sehingga siap menyongsong kehidupan global yang sangat kompetitif itu.
2.             Mengembangkan dan Menguasai Iptek
HMI sebagai organisasi para kader pembangunan yang Islami dan berwawasan kebangsaan, diharapkan akan terus berusaha mengapresiasi secara kreatif dan inovatif berbagai gejala dan kencenderungan yang dilahirkan oleh kemajuan iptek. HMI harus dapat merespon dengan tepat tuntutan eksternal yang tidak bisa dielakkan, yaitu perkembangan global yang didominasi oleh peranan iptek secara amat kuat. Sebagai organisasi kemasyarakatan pemuda, dan sebagai bagian dari komunitas perguruan tinggi, HMI harus memelopori pengembangan budaya iptek di kalangan masyarakat.
3.      Memperkukuh Wawasan Kebangsaan
HMI juga dituntut untuk senantiasa meneguhkan dan memantapkan wawasan kebangsaan di kalangan anggotanya. Identitas Islam di dalam HMI hendaknya merefleksikan semangat dan kesadaran bahwa HMI merupakan bagian yang terintegrasi dalam masyarakat Indonesia. Dengan demikian, HMI dituntut untuk bisa melakukan sintesa harmonis antara wawasan keislaman dan wawasan kebangsaan. Islam merupakan semangat pergerakan di dalam tubuh HMI, sedangkan wawasan kebangsaan haruslah menjadi basis HMI dalam melakukan pergerakan itu. Meneguhkan dan memantapkan wawasan kebangsaan ini bukan hanya berdimensi internal, melainkan juga berdimensi eksternal yakni untuk mengantisipasi gelombang globalisasi pada abad ke-21 nanti. Peneguhan dan pemantapan wawasan kebangsaan ini, selain untuk menghadapi tantangan globalisasi, juga agar keutuhan kita sebagai bangsa tetap terpelihara dan terjaga dengan baik. Meneguhkan dan memantapkan wawasan kebangsaan dalam era globalisasi ini sungguh penting, karena ada potensi nilai-nilai kebangsaan terdesak karena menguatnya nilainilai universal. HMI dapat berperan besar dalam usaha kita untuk terus menerus memupuk dan memperkukuh wawasan kebangsaan dalam masyarakat Indonesia yang sangat majemuk itu.
4.      Memperkuat Basis Kepemimpinan
Sebagai organisasi mahasiswa, HMI merupakan lembaga strategis wadah pembentukan kepemimpinan. Bangsa kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh dan memiliki visi yang jelas tentang pembangunan nasional dan masa depannya. Kepemimpinan yang tangguh dan bervisi itu tidak bisa lahir secara tiba-tiba, tetapi harus melalui suatu proses; ada masa penempaan, penggodogan, dan pengujian, baik ketika masih menjadi mahasiswa maupun sesudah terjun ke masyarakat. HMI yang telah terbukti merupakan wadah kelahiran pemimpin-pemimpin di masa lalu, diharapkan dapat terus menjadi kancah dan medan penempaan, penggodogan, dan pengujian bagi calon-calon pemimpin bangsa di masa depan yang kualitasnya sesuai untuk menghadapi tantangan masa depan, yang tidak sama dengan masa lampau atau masa kini.



[1] Disampaikan pada Intermediate training HMI Cabang tulungagung tertera hari rabu tanggal 18 Septemberr poukul 13.00 di Villa argo wilis.